Khuddam.id- Memperingati satu abad Muslim Ahmadiyah Indonesia, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia meluncurkan buku ‘Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan’ pada Selasa, 20 Januari 2026.
Buku ini tidak hanya merekam perjalanan historis Ahmadiyah di Indonesia, tetapi juga menghadirkan refleksi kritis lintas iman dan lintas disiplin tentang keberagaman, kemanusiaan, serta masa depan kebangsaan Indonesia.
Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan merupakan karya kolaboratif yang memuat refleksi dan analisis dari 100 tokoh bangsa.
Mulai dari akademisi, pemuka agama lintas iman, aktivis masyarakat sipil, hingga pejabat publik. Buku ini disunting oleh Prof. Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar, dan disusun dalam dua jilid yang saling melengkapi.
Jilid pertama memotret perjalanan satu abad keberagamaan Muslim Ahmadiyah di Indonesia, mulai dari sejarah awal kedatangannya pada 1925, dinamika sosial-keagamaan yang dihadapi, hingga kontribusi Ahmadiyah dalam bidang pendidikan, penguatan spiritualitas, serta kerja-kerja kemanusiaan.
Buku ini menegaskan bahwa kehadiran Ahmadiyah tidak pernah berada dalam ruang hampa, melainkan selalu berkelindan dengan konteks sosial, budaya, politik, dan keagamaan Indonesia.
Sementara itu, Jilid kedua mengangkat isu-isu kontemporer yang lebih tematik, seperti ketahanan komunitas dan kepemimpinan perempuan Ahmadiyah, keterlibatan dalam isu lingkungan hidup dan demokrasi, jaringan solidaritas lintas iman, hingga perspektif hukum dan konstitusional mengenai masa depan Ahmadiyah di Indonesia.
Melalui pendekatan multidisipliner teologis, sosiologis, antropologis, politik, dan kultural, buku ini menghadirkan pembacaan yang utuh dan berlapis atas pengalaman keberagamaan Muslim Ahmadiyah.
Dalam diskusi publik peluncuran buku, Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, menegaskan bahwa sejak awal kehadirannya di Indonesia, Ahmadiyah menempuh jalan damai melalui pendidikan, pengkhidmatan kemanusiaan, serta penguatan nilai-nilai spiritual.
Dirinya juga menekankan bahwa perjalanan 100 tahun ini tidak terlepas dari tantangan dan tekanan, namun dihadapi dengan kesabaran dan konsistensi sebagai bagian dari komitmen keimanan dan kebangsaan.
Diskusi juga menghadirkan Hery Haryanto Azumi (Intelektual Muda NU), Pdt. Gomar Gultom (tokoh lintas iman), serta Mila Muzakkar (tokoh muda pegiat keberagaman dan isu gender).
Dipandu oleh Dedy Ibmar sebagai moderator, para narasumber menyoroti buku ini sebagai ruang dialog yang penting untuk memahami Ahmadiyah tidak semata dari sudut pandang teologis, melainkan sebagai komunitas warga bangsa yang aktif berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.
Salah satu editor sekaligus penulis buku, Prof. Ismatu Ropi, menegaskan bahwa buku ini berupaya melampaui narasi tunggal tentang Ahmadiyah.
“Jemaat Ahmadiyah tidak pernah hadir dalam ruang yang hampa. Ia selalu bersinggungan dengan dinamika sosial, budaya, politik, dan keagamaan yang kompleks. Karena itu, buku ini tidak hanya berbicara soal perbedaan teologis, tetapi juga tentang bagaimana Ahmadiyah memaknai keberadaannya, membangun jejaring sosial, menghadapi tantangan, dan merumuskan masa depannya sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, menyampaikan,
“Buku ini kami harapkan menjadi jembatan pemahaman dan dialog kebangsaan, sekaligus kesaksian bahwa kerja kemanusiaan, kesabaran, dan cinta kasih adalah nilai universal yang terus kami upayakan selama 100 tahun di Indonesia.”
Peluncuran buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan menegaskan pentingnya literasi sejarah, dialog lintas iman, dan refleksi kebangsaan dalam merawat keberagaman Indonesia.
Melalui kesaksian 100 tokoh dan pembacaan multidisipliner, buku ini diharapkan menjadi rujukan penting dalam membangun pemahaman yang lebih adil, utuh, dan manusiawi tentang Ahmadiyah serta kontribusinya bagi Indonesia. Kegiatan ini sekaligus menjadi penanda dimulainya roadshow nasional bedah buku di 10 kota sebagai bagian dari ikhtiar memperluas ruang dialog dan perdamaian.
